Arsip Dokumen
Salam Sehat

Health is not Everything, but Everything Without Health is Nothing

Pengunjung Blog

Archive for the ‘Renungan, Motivasi dan Religi’ Category

Are People Who Speak More Than One Language Smarter? Katanya Begitu…..menurut hasil penelitian…!!


In the early nineteen fifties, researchers found that people scored lower on intelligence tests if they spoke more than one language. Research in the sixties found the opposite. Bilingual people scored higher than monolinguals, people who speak only one language. So which is it?

Researchers presented their newest studies last month at a meeting of the American Association for the Advancement of Science. The latest evidence shows that being bilingual does not necessarily make people smarter. But researcher Ellen Bialystok says it probably does make you better at certain skills.

ELLEN BIALYSTOK: “Imagine driving down the highway. There’s many things that could capture your attention and you really need to be able to monitor all of them. Why would bilingualism make you any better at that?”

And the answer, she says, is that bilingual people are often better at controlling their attention — a function called the executive control system.

ELLEN BIALYSTOK: “It’s quite possibly the most important cognitive system we have because it’s where all of your decisions about what to attend to, what to ignore, what to process are made.”

Ms. Bialystok is a psychology professor at York University in Toronto, Canada. She says the best method to measure the executive control system is called the Stroop Test. A person is shown words in different colors. The person has to ignore the word but say the color. The problem is that the words are all names of colors.

ELLEN BIALYSTOK: “So you would have the word blue written in red, but you have to say red. But blue is so salient, it’s just lighting up all these circuits in your brain, and you really want to say blue. So you need a mechanism to override that so that you can say red. That’s the executive control system.”

Her work shows that bilingual people continually practice this function. They have to, because both languages are active in their brain at the same time. They need to suppress one to be able to speak in the other.

This mental exercise might help in other ways, too. Researchers say bilingual children are better able to separate a word from its meaning, and more likely to have friends from different cultures. Bilingual adults are often four to five years later than others in developing dementia or Alzheimer’s disease.

Foreign language study has increased in the United States. But linguist Alison Mackey at Georgetown University points out that English-speaking countries are still far behind the rest of the world.

ALISON MACKEY: “In England, like in the United States, bilingualism is seen as something special and unique and something to be commented on and perhaps work towards, whereas in many other parts of the world being bilingual is just seen as a natural part of life.”

source : VOA News

Share on Facebook

Download Murotal Alquran 30 Juz Lengkap

Assalamu’alaikum

Salam sehat.

Banyak Macam cara terapi untuk menyembuhkan penyakit, termasuk stress disorder. Sebagian dari kita dengan melakukan terapi Musik (Music for Healing). Ada yang suka dengan musik klasik (like music by  Mozart). Katanya setelah mendengarkan musik tersebut merasa lebih tenang dan nyaman.

Sebenarnya mendengarkan lantunan bacaan Al-Quran, juga merupakan “music healing” yang sangat ampuh.

Silahkan Anda Koleksi “Murotal Al-quran” lengkap 30 Juz.  KLik link berikut ini : http://english.islamway.com/sindex.php?section=erecitorslist&iw_a=view&id=71

Semoga Bermanfaat

Salam

Share on Facebook

“KEARIFAN LOKAL”: Kawasan Tanpa Rokok ala Desa Bone-Bone

Bagi para perokok, secangkir kopi panas biasanya belum cukup menghangatkan tubuh di daerah ketinggian yang berhawa dingin. Rasa menggigil seolah baru benar-benar sirna ketika merokok. Namun, sugesti itu mentah di kalangan warga Desa Bone-Bone, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, yang berlokasi di kaki Gunung Latimojong, 1.500 meter dari permukaan laut.

Suasana antirokok begitu terasa saat memasuki desa yang berpenduduk 801 jiwa tersebut. Tanda larangan merokok langsung terpampang pada baliho besar tepat di gerbang masuk Desa Bone-Bone, sekitar 300 kilometer sebelah utara Kota Makassar. Sejumlah papan berisi larangan merokok dan imbauan untuk menjaga kesehatan juga menghiasi sudut-sudut desa seluas sekitar 800 hektar itu.

Welly P (67), warga Dusun Buntu Billa, sudah 10 tahun terakhir tidak lagi merokok. Kebiasaan itu ia tinggalkan seiring diberlakukannya larangan merokok di Desa Bone-Bone tahun 2000. Meskipun awalnya tersiksa karena mengaku sulit berkonsentrasi, lambat laun Welly mulai menuai manfaat berhenti merokok.

Kakek dari empat orang cucu itu tak lagi ngos-ngosan ketika harus berjalan kaki menuju kebun kopi yang terletak sekitar 1,5 kilometer dari rumahnya. Jalan terjal dan berbatu mampu dilalui Welly tanpa harus mengaso sejenak. Sama halnya ketika ia pulang dengan memanggul 40-50 kilogram (kg) biji kopi yang dipetiknya dari kebun seluas 1 hektar peninggalan kedua orangtuanya.

Kondisi tersebut kontras dengan yang dialami Welly saat masih menghabiskan tiga bungkus rokok sehari. Kala itu, suami dari Hanaki (47) ini harus berulang kali beristirahat untuk mencapai kebun. Dada yang terasa sakit karena batuk membuat Welly cepat merasa lelah. Saat pulang dari kebun pun, ia hanya mampu memanggul paling banyak 20 kg biji kopi.

Pengaruh negatif merokok juga dirasakan Darwis (39), warga Dusun Bungin-Bungin. Ayah dua orang putra itu hanya 2-3 kali memetik biji kopi di kebun dalam sepekan karena sering sakit dan didera rasa malas. ”Badan rasanya ngilu kalau bekerja keras,” tutur lelaki yang sudah merokok sejak usia 6 tahun ini.

Sejak meninggalkan kebiasaan merokok 10 tahun silam, semangat kerja Darwis perlahan tumbuh kembali. Ia memerah susu kerbau sebelum berangkat ke kebun pada pukul 08.00 Wita. Perahan susu kerbau dimanfaatkan warga setempat untuk membuat dange, penganan khas Desa Bone-Bone. Sepulang dari kebun pada sore harinya, Darwis mengisi waktu dengan membelah kayu bakar untuk memasak.

Rutinitas itulah yang membuat mayoritas dari 140 keluarga di Desa Bone-Bone mampu meninggalkan kebiasaan merokok. Berbagai kesibukan tersebut cukup efektif menjauhkan mereka dari godaan merokok.

Dilarang jual rokok

Acara kumpul-kumpul pada malam hari yang biasa dihadiri pemuda dan bapak-bapak juga tetap berlangsung guyub meskipun tanpa kepulan asap rokok. Mereka hanya mengenakan kain sarung untuk menangkal hawa dingin sambil menyeruput kopi hangat yang disajikan bersama pisang goreng.

Pencanangan kawasan bebas asap rokok merupakan inisiatif Kepala Desa Bone-Bone Muhammad Idris (45) pada tahun 2000. Kala itu, ia prihatin dengan banyaknya anak-anak usia SD hingga remaja yang merokok. Pemahaman tentang bahaya merokok minim mereka dapatkan mengingat kebiasaan tersebut dilakukan orangtua pada umumnya.

Mantan loper koran yang lulusan IAIN Alauddin itu pun menuangkan program kawasan bebas asap rokok dalam peraturan dusun (Status Bone-Bone baru berubah menjadi desa pada tahun 2008). Meskipun secara tegas telah melarang penjualan rokok di dusunnya, ia masih mengizinkan warga merokok di dalam rumah. Hal ini untuk ”mengompromi” permintaan warga yang keberatan jika larangan merokok langsung diberlakukan di seluruh wilayah.

Setelah tahun 2003, warga tidak boleh lagi merokok di kawasan desa termasuk di rumah. Dalam kurun itu pula, setiap bulan, Idris bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang mengadakan penyuluhan tentang bahaya merokok bagi kesehatan.

Di sisi lain, toleransi juga berlaku bagi para pendatang saat awal mula penetapan kawasan tanpa rokok. Warga dari luar dusun diperbolehkan merokok selama tiga hari. Namun, mereka akan diminta pulang jika melanggar aturan tersebut. Saat ini pendatang sama sekali tak diperkenankan merokok jika berkunjung ke Desa Bone-Bone.

Secara bertahap, aturan larangan merokok juga disertai dengan sanksi. Warga yang ketahuan merokok di kawasan desa wajib terlibat dalam kegiatan untuk kepentingan umum, seperti pembenahan jalan rusak, pembangunan fasilitas umum, dan pembersihan jalan. Sanksi ini dinilai cocok untuk mendidik warga ketimbang denda berupa uang tunai.

Bahaya merokok kian mendapat perhatian dari warga ketika Hanaki harus menjalani katerisasi jantung pada tahun 2005 di Malaysia. Menurut analisis dokter, penyakit Hanaki yang saat itu berprofesi sebagai tenaga kerja wanita terjadi akibat menjadi perokok pasif selama bertahun-tahun.

Kejadian yang menimpa Hanaki ternyata mengubah pola hidup warga secara signifikan. Selama tiga tahun terakhir, Desa Bone-Bone benar-benar bebas dari asap rokok. Warga mulai dari anak-anak hingga dewasa tak segan menegur siapa pun yang merokok di kawasan desa.

Menurut Idris, upaya mengawasi perilaku warga desa sejauh ini relatif lancar. Kondisi geografis desa yang terletak di dataran tinggi membuat bau asap rokok dapat tercium hingga radius sekitar 200 meter. ”Saya juga tidak khawatir jika ada warga yang nekat merokok di dalam rumah karena anggota keluarga ikut mengontrol,” ungkapnya.

Aturan bebas asap rokok turut memperbaiki kondisi kesehatan warga. Rahmatia, pegawai kesehatan di Desa Bone-Bone, mengatakan, dalam setahun terakhir tidak ada lagi warga yang menderita batuk berdahak akibat kebiasaan merokok. Penyakit influenza yang masih terjadi saat ini pada umumnya dipicu anomali cuaca.

Idris bersama warga juga menyepakati sejumlah aturan lain yang dibuat demi kemajuan desa. Sejak tiga tahun lalu, warga yang ingin menikah wajib menanam minimal lima bibit pohon surian (Toona sureni) di lahan masing-masing. Hal ini bertujuan menjaga kelestarian kayu surian yang biasa digunakan warga setempat sebagai bahan bangunan rumah.

Bahan pengawet

Dua tahun berselang, muncul aturan yang melarang warga memelihara atau mengonsumsi ayam broiler. Kebijakan itu dipicu wabah flu burung yang menyebabkan puluhan ayam di Bone-Bone mati. Sejak itulah warga mulai mengembangkan peternakan ayam kampung untuk memenuhi kebutuhan pangan saat bergotong royong membangun rumah ataupun acara syukuran.

Adapun aturan yang membatasi konsumsi makanan berbahan pengawet baru diterapkan mulai tahun ini. Toko kelontong milik koperasi desa tidak menjual penganan yang mengandung bahan kimia untuk penyedap rasa atau Mono sodium glutamat (MSG). Jajanan untuk anak-anak hanyalah cokelat, biskuit, dan kue buatan warga setempat, seperti wajik, donat, dan dange.

Masing-masing keluarga juga sepakat menyumbangkan uang Rp 3.000 untuk pembuatan bubur kacang hijau setiap bulan. Konsumsi bubur kacang hijau secara teratur diharapkan membantu perkembangan sel otak anak-anak dan menjaga stamina warga yang telah berumur.

Upaya yang telah dilakukan warga Desa Bone-Bone mulai menginspirasi beberapa desa di Enrekang, seperti Kendenan dan Kadinge. Kedua desa itu sudah mengukuhkan diri sebagai kawasan tanpa rokok sejak beberapa bulan lalu. Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung, juga berencana memunculkan desa bebas asap rokok lain di Kecamatan Ala dan Anggeraja mulai tahun depan.

”Saya berharap desa lain mengikuti apa yang telah dilakukan warga Desa Bone-Bone,” ujar bupati yang berhenti merokok sejak tiga tahun lalu ini. Pencapaian warga Bone-Bone ini terpilih sebagai salah satu praktik cerdas yang ditampilkan yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) dalam Forum KTI V awal November lalu di Ambon, Maluku.

Apa yang telah dilakukan Idris dan kawan-kawan sebenarnya bukan hal baru. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Surabaya sudah lama mendambakan kawasan tanpa rokok di wilayah masing-masing. Namun, warga Desa Bone-Bone menunjukkan bahwa itu hanya dapat dicapai dengan kepemimpinan yang kuat dan komitmen bersama.

”Seha’ki yake e’da ta mappelo’ mane (Tidak merokok itu sehat, Saudara)!”

Sumber : Kompas

“Sebagian besar  dari Kita baru merasakan telah  diberi Nikmat, Saat kenikmatan tersebut diambil kembali oleh sang pemberi nikmat “ALLAH””.

Share on Facebook

Belajar dari Pak Tani…….(sebuah renungan)

Assalamu’alaikum

Siapa yang tidak tahu profesi yang satu ini, yaitu Petani. LAlu apa yang bisa kita pelajar dari mereka…? Bertani…?

Tidak salah memang kalau anda iningin belajar pertanian, maka anda bertanya kepada petani. Namun dibalik profesinya petani kita dapat belajar banyak tentang filosinya.

Read the rest of this entry »

Share on Facebook

Nilai Diri….


Download Gambar Ukuran Aslinya

Share on Facebook

Ber-Syukurlah…..!

download gambar

Share on Facebook

“Man Jadda Wajada”


Jangan Mudah Menyerah Sahabat, Allah Bersama Kita

Download Gambar

Share on Facebook

Salah Kaprah Tentang Diet (Unhealthy Diet)

Salam Sehat

Kegemukan atau Obesitas prevalensinya semain meningkat. Peningkatan obesity ini dikuti dengan semakin meingkatnya penyakit degeneratif atau penyakit tidak menular.

Banyak orang berlomba-lomba dengan berbai cara untk menurunkan berat badanya. Ada yang mengikuti fitness center, konsultasi dokter, dan cara-cara tradisional. Pengertian kebanyakan orang memahami diet adalah mengurangi makan, sehingga timbul pemahaman semakin banyak mengurangi makan maka semakin baik. Memang benar mengurangi makan akan menurunkan berat badan, namun bila berlebihan justru akan berakibat membahayakan kesehatan tubuh kita.

BAgaimana donk diet yang sehat…? atau lebih tepatnya “Bagaimana menurnkan berat badan tapi tetap sehat..?”

1. Makanlah dengan frekuensi yang normal (sehari 3 kali)

2.Makanlah dengan porsi (banyak) ag normal dengan porsi nasi yang dikurangi dar biasanya. yang jelas jangan lebih dari 1 piring nasinya orang indonesia.

3.Konsumsi BUah yang cukup, salah satunya berfungsi menutup rasa lapar karena porsi nasi yg dikurangi.

4.Yang sering lupa dan dilupakan mungkin karena malas, yaitu Olah Raga (Sport). Lakukan olah raga apa saja. indikator sederhananya Olah raga sampai berkeringat segar. Seminggu minimal 3 kali. Olah raga yang ringan misalnya Jalan kaki, jogging, sepeda, dll.

5. Yang tersulit adalah menjaga konsistensinya terhadap hal diatas.

Saya sudah memuktikan, dan turun 5 kg dlm waktu 3 bulan.

Berat badan normal akan membuat tubuh tetap sehat. Dengan Sehat kita bisa berbuat banyak (Kebaikan) untuk orang lain, tapi kalau sakit karena berat badan berlebih, maka kita menjadi beban orang lain.

“Selamat mencoba”

Share on Facebook

Bagaimana cara mendengarkan radio online…?

Assalamu’alaikum

sekedar share

Pernah berkeinginan mendegarkan radio online (streaming).  Biasanya saya setiap pagi mulai jam 5 pagi mendengarkan siaran tausiyah online langsung dari Mq Fm Bandung. Pastikan Anda ter-install  winamp dan Klik beberapa link dibawah ini

MQ FM Bandung

MQ FM Jogjakarta

SQ FM Jayapura

Selamat mendengarkan, semoga bermanfaat.

Share on Facebook

Hakekat “Bersyukur”

Assalamu’alaikum

Kita sering mendengar dari berbagai guru atau ustad, tentang bersyukur. Allah juga memerintahkan kita (HambaNya) untuk selalu bersyukur. Namun apakah kita sudah memeahami betul tentang syukuir itu…?

Banyak definisi dan pengertian syukur, ada yang berpendapat bahwa bersyukur adalah mengucapkan Alhamdulillah apabila kita mendapatkan kenikmatan tertentu. Menurut hemat saya ada pengertian bersyukur yang lebih baik yaitu “Bersyukur adalah menerima dan memanfaatkan segala Kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita sesuai tujuan Allah memeberikan kenikmatan itu kepada kita” . Sederhananya Bersyukur itu menikmati kenikmatan Allah dengan cara yang ALLLAH Ridho.

Contoh, Allah memberikan kita kaki, harus kita manfaatkan untk aktifikas yang baik. Allah memberi kita paru-paru jantung dan kita memanfaatkan untuk beraktifitas yang Allah ridho, bukan untuk melakukan aktifitas yang merugikan baik terhadap orang lain maupun diri sendiri.

Aktifitas merokok sebagai contoh: merokok tidak hanya merugikan orang lain tapi merugikan kesehatan bagi dirinya sendiri, dan Allah membenci orang yang berbuat Aniaya. Bila kita katkan dengan definisi bersyukur diatas, nampaknya masih jauh dari rasa syukur.

Salam sehat.

Share on Facebook
Kalender
July 2020
M T W T F S S
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Komentator
    Skip to toolbar